Kamis, 24 Januari 2019

Journey Weight Loss (part 2)...2015 Onwards

In 2013 I shared the beginning of my never ending weight loss journey. Did I succeed last time? the answer is Yes and No. Yes, cause I lost 17 kg. No, cause I was only able to maintain it for 1.5 years. Looking back, I realized I was relying solely on exercise. I was on the gym 6-7 times a week with additional 1-2 sessions of running or after office hours cardio class. I was eating comfortably, meaning I would devour all kind of foods and do hard exercise the next morning as if I was punishing myself. I ate rice, bread, fried foods, cake, ice cream...you name it. The journey was short, I lost 17 kg within May through October. I thought I finally found the key of finally controlling my weight. Boy was I wrong..In April, I had to move to other job, which required more working hours and quite stressful. I couldn't maintain my workout sessions from 6-7 times a week. It was only 3 times a week. I had to et with my boss and she came from another country, so food was an adventure for her. We tried different restaurant and different foods, partly to entertain our miserable job (the job aint miserable but the pressure and how the management worked frustrated us). Then I had to work late almost every day for a few months. We ordered food in late at night around 9-10 PM and I had to come home around 11-12 AM. I was too exhausted to wake up the next morning and skipped my workout. Not very long, the weight gain was starting to show. I would buy new clothes cause the old one starting to snug. I would consider it as a shopping spree to compensate the misery but the truth it I was in denial. I GOT THIS, I CAN LOSE WEIGHT, I DID THAT BEFORE! This is just temporary! well, it wasn't temporary. I gained and I gained some more. I moved job again and this time it wasn't a miserable job. I was happier and I was committed to work harder to loose weight. I workout regularly, mostly in group exercise (I love spinning class--cycling class), I enjoyed it, really. But in terms of food, I kept sabotaging my diet. The thing was, this new job was in a mall and I had all the foods I craved, steps away. There were many restaurant to choose from and I met more people since I was working inside the mall and we would have meet ups downstairs to have coffee or desserts. Slowly but sure, I gained more weight. Fast forward to 2 years later, I suddenly felt I was prone to injury though I was doing the same thing over the years. My back was hurt (old problem), my knee was hurt (starting from 2012) and my foot sole was starting to hurt.. I had to go to the orthopedic doctor and check whats causing the pain. The doctor just gave me pain killer pills and ordered me to take it every time I felt discomfort. I wasn't satisfied. The pain prevent me from working out cause it hurt all over when I cycled. I went different treatment, I went to physioteraphist. it helped but it didn't cure whatever I was feeling.

One day when I opened instagram, I saw an ad of a new fitness place located in my old gym. They were having a promotion and I was curious to find out. I called them and set up an appointment. They had my weight and measurement taken. Holy crap, I gained all my weight that I lost throughout 2015 and some more kilos. It was almost like a wake up call. This new fitness place prepared a program where I can only workout 3 times a week,each for 40 minutes and there was food guidance. Thought I was experienced enough for doing it my own, I ignored the guide and the personal trainer soon asked me to follow the food guidance. It was basically a low carb diet where carbs are restricted. I didn't know what I was getting into but finally decided to follow it since I paid and I had nothing to loose. I underestimated the program at first but I was losing weight consistently, week after week. The workout was pretty basic: squat, dead lift, bench press, overhead press, bicep curl, crunch and a bit of TRX. Soon I realized, the workout only to complement the calories deficit I had from the diet. I became excited and I read books on low carbs diet and convinced that it worked from me. By 5 months I was losing 17 kg. I stopped my membership there and I joined personal training at my old gym (Golds Gym). This time my program focused on strength and agility besides weight loss. I would workout 4 times a week with the trainer and my workout was full body workout that combines circuit types training and weigh training. The trainer taught me to do push up, assisted pull ups, all kind of planks, be it spider planks, mountain climbers, side planks...you name it, even burpees, lunges, squat and various dead lift. All that hard exercise, you would think that I my preexisting symptoms af aching back, knees and foot would come back. Amazingly it didn't. Now, I believed that the symptoms was triggered by high blood sugar causing inflammation in my joints. Once i quit excessive sugars, my body starting to heal. Hopefully I will be pain free for good now I have watched my diet and exercise regularly.

It was a long story, but it proved my point that health and fitness is a continuous journey. I don't think I'm done. I'm far from done. My goals are evolving, depends on phases of my life...hope I can do my best!

Current look: January 2019


Back then: November 2017


Rabu, 23 Januari 2019

Never Throw Any Paper When You Are Travelling---We Learned it The Hard Way

Ini sebenarnya postingan spin off dari Japan Day 3. Ingat kan waktu dibilang ada kejadian yang menghebohkan sewaktu di Kyoto? Nah ini kejadian lengkapnya. Ketika kita berangkat dari Osaka ke Kyoto, keretanya itu jam 08:10. Sepagi itu, kita mesti check out, geret koper, pesen tiket, beli sarapan trus berdiri manis di peron nunggu kereta. Kebetulan hari itu hari Sabtu, dimana kayaknya orang Osaka sekampung pada jalan-jalan ke Kyoto. Perjalanan kurleb 30 menit pun dihabiskan dengan berdiri. Sesampainya di stasiun Kyoto, mulai mencari loker besar yang katanya cuma ada di bagian peron Shinkansen. Setelah berputar beberapa kali akhirnya ketemu juga dengan loker super besar yang bisa muat 1 koper medium. Mr. B dan aku masing-masing 1 loker. Cara sewa loker sungguh canggih . jadi kita tinggal ke layar untuk pesan, nanti dikasih nomer lokernya yang tiba-tiba terbuka terus dikasih struk/barcode kertas yang berisi pin untuk buka loker. Buka-tutup hanya bisa satu kali loh. Jadi tolong jangan galau :). More info di link ini https://www.kyotostation.com/kyoto-station-lockers-luggage-storage/ Setelah koper tersimpan rapi, kita langsung menuju terminal bus untuk naik bus wisata, yang detailnya bisa dibaca di Japan Day 3.

Setelah selesai jalan-jalan, hari sudah malam, badan remuk dan lapar sekali. Rencananya adalah makan-ambil loker-hotel. Namun semua tempat makan di Kyoto Station yang gueeedeee itu sangat ramai. Karena malas antri, rencana berubah menjadi ambil loker-hotel-makan. Langsung menuju bagian Shinkansen untuk menuju loker. Karena faktor lelah, tempatnya gak ketemu aja dong! muter-muter di bagian yang sama, tempat loker yang dituju bener-bener ga ketemu. Aduh! ingat-ingat lagi, kalau si loker ini dekat restoran India, maka kita nyari informasi untuk tanya. Gak ketemu bagian informasinya. Di saat itu mental benar-benar drop karena berasa anak ilang di Kyoto. Akhirnya dengan penuh perjuangan, balik lagi ke jalan awal turun bus dan mulai nyusurin jalan yang dilewati sebelumnya. Akhirnya ketemu! Ternyata sang loker berada di sebelah Selatan sementara kita nyarinya di bagian Barat. Pantesan ga ketemu (saking gedenya Kyoto Station. Setelah sampai di loker ternyata struk barcode Mr. B ilang!! isi kantong celana dikeluarin semua. Isi ransel terburai. ga ketemu si kertas mini. Nengok kiri-kanan, ga ada yang bisa dimintain tolong. Jadi akhirnya keluar lagi ke arah peron masuk kereta untuk nanya petugas kereta. Dia pun ga bisa bantu karena si pengelola loker ini bukan si stasiun tapi pihak ke 3. Nah loh.... dia nyaranin supaya nelpon ke nomer yang tertera di struk aku (yang masih utuh). Oke, nelponnya bisa pakai hp? tentu gak bisa, karena kita pakainya wifi, ga bisa local call. Jadi mesti nyari telepon umum...yap, telpon umum? Kalo di Indo nemu kejadian gini, mati aja...mana ada telpon umum yang nyala? ngikutin petunjuk yang ada di stasiun, sampe lah ke telpon umum yang masih sangat amat berfungsi. "hallo?"langsung dijawab sama rekaman suara yang kayanya bilang " pencet extension yang anda tuju" (ngaranggggg ihh). Berbekal insting, pencet aja 0 yang biasanya "bantuan operator" (kalo di kantor-kantor kan gituuuu). Ga lama kemudian "moshi...moshi...bla bla bla"...dengan nada setengah panik "can you speak english please?", telpon diserahkan ke orang lain sepertinya...akhirnya dengan bahasa Inggris yang patah-patah ada yang bisa menjawab pertanyaan. Karena sudah lewat jam kerja, loker yang struknya hilang, gak bisa dibukain karena bukanya harus manual. Besok pagi jam 9 baru bisa dibuka katanya...Dueeeeeng! mateng deh. Akhirnya dengan berat hati, pergi tanpa membawa koper. Muka Mr. B sudah lesu...dan mulailah mulut cewek yang merepet ke sini sana ngomel2 tanpa henti. (Maaf ya Mr. B sudah sial, masih dimarahin pulak)..sebelum ke hotel, makan dulu di topscafe, resto yang kayak Yoshinoya. Very cheap la, rice bowl ama minum uda sepaket. Tapi boro-boro mau nikmatin makanan, rasanya cuma pengen rebahan aja. Kalo ada yang nanya soal baju tidur, mau info aja, rata-rata hotel di Jepang (kapsul or hotel biasa) kasi kimono tidur untuk baju bobok....so thougtful ya (curiganya orang Jepang banyak yang ngamar gak direncanain jadinya gak bawa baju ganti).

Keesokan paginya, bangun tidur langsung menuju telpon umum untuk nelpon ke perusahaan loker, dijawab oleh orang yang beda lagi, cuman dia bilang teknisi sudah menunggu di depan loker dari jam 9, gawat...ini udah 9.30! gegara stress tadi malam jadinya kesiangan. Apalagi hari ini mau explore Kyoto lagi, jadi mesti bebawaan beberapa barang. Dengan lari-lari kecil, sampai ke depan loker dan sudah ada Bapak setengah baya dengan seragam membawa kunci lagi nungguin kita, aduuuh Pak maaf ya kita ngaret. Bayar denda donk buat ngilangin kertas barcode itu yang dendanya lebih mahal daripada sewa loker....that money can be used for food, dude! bye bye money 

Selasa, 12 September 2017

Japan Day 3: Kiyomizudera

Pagi-pagi badan serasa remuk setelah kemarin ke USJ seharian. Hari ini aku harus pergi ke Kyoto. Perjalanan Osaka-Kyoto cukup 28 menit dengan kereta JR special rapid service. Sayangnya karena kereta penuh, kita harus berdiri. Sesampainya di sana kita berencana untuk sewa locker di stasiun Kyoto. Enggak disangka, inilah awal malapetaka day 1 Kyoto (cerita lengkapnya nanti). Locker yang dipakai yang cukup canggih,  kuncinya menggunakan struk bukan kunci dan terletak dekat peron shinkansen. Dari sana kita keluar stasiun menuju terminal bis. Rencananya untuk keliling Kyoto hari ini menggunakan bus dengan sebelumnya membeli bus pass 1 hari dengan harga 500 yen. Karena jatuh di hari Sabtu antrian bus cukup mengular dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai akhirnya naik ke bus. Rute bus yang cukup populer adalah no 100 atau 206, keduanya melewati Kiyomizudera. 


Petunjuk rute bus di terminal
Kuil di atas bukit: Kiyomizudera 

Perjalanan cukup singat dari Kyoto Station sampai ke Kiyomizudera stop. Untuk menuju Kiyomizudera, perjalanan harus ditempuh lagi dengan berjalan kaki yang cukup menanjak. Tidak terlalu berasa capek sih karena di kiri kanan banyak toko-toko cantik menjual makanan dan souvenir lucu. Kiyomizu temple nya sangat cantik dan bagus sekali untuk foto-foto dengan biaya masuk  orang 300 Yen per orang. Sayang bangunan utama "Hondo" masih direnovasi.  Setelah melihat temple dan mengambil foto di tepi kuil yang sangat cantik, bisa mengambil air di semacam kolam di bawah bukit yang disebut "Air Terjun Otowa". Karena ingin menghemat waktu, kita tidak mengambil air di kolam ini. Pilhan lainnya ke kuil dewa cinta di ruang Jishu-Jinja. Lucu ya di sini banyak sekali gadis-gadis berkimono baik turis maupun orang Jepang asli. Kuncup-kuncup sakura dan bunga bunga yang lain mulai bermekaran di sepanjang area dan kebun. 

Setelah puas berjalan-jalan sekitar kuil. Lapar melanda. Lihat-lihat di sekitar kuil ada warung yang menjual semacam udon berkuah. Sepertinya sih enak. Tapi kami melewati itu dan langsung turun ke arah jalan besar. Di sepanjang jalan menurun dari kuil ke jalan besar, mata disuguhi berderet-deret toko yang kebanyakan menjual makanan khas Kyoto dengan bahan green tea, mulai dari biskuit, minuman sampai es krim. Walaupun cuaca cukup dingin, tak tahan kalau tidak mencicipi es krim green tea yang segar. Dengan memegang es krim tersebut, perjalanan menuruni jalan tidak terlalu capek. Di jalan besar ternyata hanya ada beberapa restoran yang buka, memang kebanyakan restoran yang ramai ada di jalan turunan tersebut. Namun karena kadung berjalan sampai bawah, kaki dan perut tidak bisa diajak berkompromi. akhirnya pilihan jatuh ke Nekomata Aburasoba. Berbeda dengan cold soba, jenis abura soba ini adalah mie soba hangat dengan minyak gurih dan cuka. Di Jakarta jenis aburasoba seperti Nekomata bisa ditemukan di Abura Soba Yamatoten. Bentuknya mirip dengan mie yamin bandung, bedanya hanya di topping yaitu daging pork, potongan rebung dan telur. Enak sekali!!. Kalau ke Kiyumizu jangan lupa mampir di Nekomata Soba ya. 

Rute jalan kaki dari Kuil Kiyomizudera ke Nekomata Aburasoba

Dari Kiyomizudera perjalanan dilanjutkan ke kuil Kinkaku-ji yang letaknya cukup jauh dari Kiyomizudera sekitar 30 menitan dengan bus, masih menggunakan bus pass 500 yen tersebut. Menaiki jalanan menanjak dan deretan perumahan, sampailah di Kinkakuji bus stop. Jam telah menunjukkan lewat jam 5 sore dan ternyata kuil Kinkaku-ji sudah tutup saudara-saudara. Dengan kekecewaan yang cukup besar, niat untuk mengunjungi Golden Pavillion pupus sudah. Untungnya toko-toko di sekitar kuil masih buka dengan harga yang cukup masuk akal. Setelah membeli beberapa macam souvenir seperti cermin kecil dan kipas, jalan dilanjutkan ke halte bus menuju Gion. Menunggu bus pun sangat lama karena cukup jarang bus yang melewati daerah ini ketika sore hari. Sesampainya di Gion, langit sudah gelap, tapi kuil Yasaka dengan warna merahnya sangat cantik. Setelah puas berfoto di depan kuil, saatnya berburu Geisha!! 

Di daerah Gion, memasuki gang-gang kecil, mulai terlihat beberapa mobil mewah menurunkan pria-pria bersetelan jas lengkap yang langsung memasuki rumah-rumah/restoran di daerah tersebut. Tidak lama bisa terlihat sesosok wanita berkimono warna warni dengan tatanan rias ala Geisha memasuki tempat tersebut. Mereka datang dengan mobil atau becak Jepang dengan langkah seribu. Memang beda antara Geisha asli dan Geisha palsu (turis yang berpakaian kimono) itu sangat beda! yang asli selalu berjalan cepat dan tidak mau difoto sedangkan yang palsu justru sangat senang diajak foto. Cahaya yang minim ditambah langkah mereka yang cepat, tidak sempatlah terfoto sosok fenomenal itu. Ah! setidaknya sudah terekam di memori otak. Makanan dan bar-bar daerah Gion cukup mahal. Kami hanya bisa memandangi daftar menu dan melengos pergi. Tapi suasana Gion sangat unik. Tradisional tapi mewah dan tertata rapi. Oh how I love Gion. Perjalanan kembali ke Kyoto Station kembali dengan bus namun harus dilewati dengan mengantri yang sangat panjang. Setelah mendapat giliran, bus dijejali banyak orang dan AC bus mati total...ternyata suasana bus Kyoto tak jauh beda dengan bus 213 Kampung Melayu-Grogol yang telah discontinue itu... wkwkwkwkw. 

Sesampainya di Kyoto Station, perut terasa lapar. Langkah pun menuju Topscafe di belakang Kyoto Station yang menjual rice bowl ala Yoshinoya. Harganya sekali lagi sangat bersahabat 1200 yen untk semangkok rice bowl dan ramen. setelah itu kembali beristirahat setelah melewati hari yang cukup panjang. Get ready for Day 3 Japan!

Tips Day 3:

1. Perjalanan Osaka-Kyoto bisa sangat ramai. Expect to stand in the train. 
2. Ternyata ada liburan sekolah di sekitar pertengahan Maret, di tanggal trip kita. Better check libur sekolah Jepang untuk menghindari timing yang terlalu ramai
3. Spend a proportionate time in every place of attraction.
4. Lihat jam buka tempat wisata yang kadang suka berubah di setiap musim





Kamis, 13 Oktober 2016

Hongkong oh Hongkong

Haloo..setelah hiatus beberapa bulan dengan janji post Japan Day 3, akhirnya aku kembali. Apakah dengan postingan Japan Day 3?  Jawabannya...belum. Karena sudah lewat beberapa bulan, susah sekali menulis sambil mengingat Day 3 Japan. Mohon maklum yaaaa. Nah, mumpung hasrat menulis sedang muncul, aku mau posting soal Hongkong. Tanggal 29 September sampai 3 Oktober yang lalu kami sekeluarga plus Mr. B plesir ke Hongkong. Rencana ini sudah digarap sejak bulan Mei 2016 yang lalu, tepatnya setelah beli tiket promo Garuda Fair untuk destinasi Hongkong. Kenapa Hongkong? Pertama karena Mama. 31 tahun yang lalu, Mama pernah mengalami trip yang tidak terlupakan jalan-jalan ke sana. sebagai anak yang baik, tentunya pingin lihat orangtua bahagia kaaan?... Kedua, tiketnya paling murah dibandingkan Bangkok (3.5 juta) dan Jepang (4.6 juta). Untuk 2 alasan itu akhirnya dipilihlah Hongkong. Tiket dibeli seharga 2.8 juta round trip dengan Garuda. Pada saat itu beli tiket 4 orang dengan formasi Papa, Mama dan kakak. Sempat goyah sebenarnya mengajak Papa yang tahun ini menginjak 76 tahun. Selain karena fisik yang lemah, beliau juga paling susah tidur kalau jauh dari rumah. Tapi gak mungkin juga ditinggal...nanti sendirian. Akhirnya memantapkan hati mengajak Papa di liburan ini. Di satu bulan sebelum berangkat, sekitar bulan Agustus, kakak mengajak anaknya karena liburnya bertepatan dengan libur semester, akhirnya karena sedang tidak ada promo, tiket dibeli dengan harga normal, dikurangi diskon anak-anak (di bawah 12 tahun) seharga 4.5 juta (wakkksssss) Karena ada anak kecil dan lansia dan mengingat cewek2 butuh window shopping disana, bukan cuma ngasuh, akhirnya diajaklah bala bantuan satu lagi yaitu pacarku now fiancee Mr. B. Dapat tiket harga normal? tentu tidak, kebetulan di bulan yang sama ada Singapore Airlines Fair dimana tiket ke Hongkong dijual dengan harga 3 juta rupiah saja! How I love Travel Fair.... All set, akhirnya tiket untuk 6 orang sudah dibeli lunas. No refund, no exchange...baiklah. 

Langkah selanjutnya adalah menentukan hotel tempat menginap. Sempat mempertimbangkan untuk menyewa airbnb tapi terpaksa harus diurungkan niatnya mengingat peraturan airbnb yang cukup ribet mengenai serah terima kunci, jadwal check in-check out, apalagi cerita horor yang bilang airbnb sebenarnya dilarang di Hongkong (coba gugel2 aja kakaaak)Sayang sekali padahal airbnb itu murah sekali, sekitar 2-3 juta untuk 1 apartemen di lokasi strategis seputaran Causeway Bay dan Wanchai area di Hongkong Island. Karena ada request dari sang Mama untuk tinggal di Hongkong Island, perburuan dimulai...Untuk kamar hotel Hongkong yang kecil-kecil tidak bisa diisi lebih dari 2 orang...pertama karena ukuran kamarnya kecil sekali, kadang dibawah 10m2 dan ranjang ukuran queennya hanya seukuran 120 x 200 m. Banyak hotel yang tidak bisa tambah extra bed karena memang tidak ada space. Kalaupun nambah extra bed, per orang dikenakan harga 750 rb-1 juta rupiah. Not cheap yo!  Untuk 6 orang tamu, harga mati harus 3 kamar...masalahnya adalah harga kamar hotel di Hongkong muahaaal muahalll kakak. Untuk hotel sekelas Holiday Inn Express aja tarifnya sekitar 2.2 juta (di tanggal yang aku mau)...kalo Best Western di bawah 2 juta sedikit tapi hotelnya agak sedikit lama. Aduh bingung...hitung2 untuk nginep di Best Western, 3 kamar selama 4 malam bisa habis 24 juta! aduh...akhirnya dicoretlah hotel-hotel tersebut. Setelah baca bebrapa review, pilihan hotel pun diperluas ke daerah North Point, 2 stasiun MTR  dari Causeway Bay yang juga punya akses tram dan bis Airport. Pilihan jatuh ke Ibis North Point. Dengan harga kamar 1.1 juta dengan breakfast, Ibis North Point jadi solusi masalah akomodasi. Pesan lewat booking.com atau agoda.com saat itu sama saja.

Tiket dan hotel selesai. Untuk pilihan tempat wisata, akhirnya beli di klook.com. Ini termasuk tiket: wifi router, Peak Tram+Sky Terrace+Madam Tussaud dan Ngong Ping Cable Car+Meal. Ringkes banget beli di Klook.com. Bisa beli pake kartu kredit dan tiket tidak usah ditukar-tukar lagi. Strategi milih Klook.com juga terbukti tepat di tragedi Peak Tram yang akan aku share di post berikutnya. 
Eniwei untuk tiket turbojet ke Macau bisa dibeli langsung di Ferry terminal, kartu Octopus untuk transportasi MTR, Bus, Tram juga bisa langsung dibeli di airport (depan airport express platform). Dengan dibelinya tiket-tiket wisata, lumayan matang lah rencana trip ini. Enggak juga!! karena sedang banyak kerjaan dan terlalu menggampangkan pekerjaan "booking2" an, akhirnya semua tiket wisata baru dibeli 1-2 minggu sebelum berangkat. hehehe :) 

Lanjut ke posting selanjutnya ya Day 1 Hongkong 

Senin, 16 Mei 2016

Japan Day 2

Setelah kecapekan di Day 1, keesokan harinya langsung bangun pagi-pagi untuk menuju Universal Studio Japan (USJ). Karena pesan hotel nya tidak termasuk breakfast, akhirnya ngacir ke minimarket untuk beli sarapan yang gak lain dan ga bukan, Onigiri. Onigiri di Jepang kan macem-macem, yang paling aku suka yang nasinya aga kecoklatan dan tengahnya ada telor asin. Harganya sekitar 120 yen kalau ga salah. Perjalanan menuju USJ ditempuh pake kereta lagi. Pas di Osaka station arah ke Nishikujo, peron sudah dipenuhi calon-calon pengunjung USJ dengan segala atributnya. Baiklaaah...sepertinya USJ akan kayak cendol hari ini.

Sesampainya disana benar saja, penuhhhhh banget USJ nya....padahal jam belum menunjukan jam 9, waktu buka USJ. Akhirnya aku pun mengantri di loket pintu masuk. Karena tiket sudah dibeli sejak di Jakarta, aku langsung mengantri di pintu masuk sekitar 30 menit. Akhirnya masuk juga ke USJ.

Welcome to USJ
Lansung lihat peta dan cari mesin express pass untuk ke Wizarding World of Harry Potter. Sampai di mesin express pass, udah penuh orang dan dapat giliran masuk jam 11.45. Jadi bingung yang dapat tiket masuk jam 10 itu ngantri dari mana ya, perasaan masuknya barengan. Setelah lihat-lihat wahana yang bisa dinaikin, pilihan jatuh ke Jaws adventure. Dari depan sih keliatan sepi, ternyata putaran antriannya di dalam...antrian yang dikira cuma 15 menit, mulur sampai 45 menit. Agak deg-deg an juga karena takut kelewat express pass ke Harry Potter-nya yang jam 11.45. Jadi Jaws ini semacam permainan naik perahu bersama-sama menyusuri sungai. Nah di sungai ini ada hiu nya yang bikin kekacauan sampai ada ledakan segala. Bukan permainan uji nyali sih karena mirip banget dengan permainan Jungle River Cruise Disneyland Hongkong. Permainan kurang dari 10 menih. Ahhhh kecewa. Setelah selesai langsung buru-buru ke arah pintu Harry Potter karena jam sudah jam 11.15, ketika mau masuk ternyata tidak boleh. Jadinya harus jam jam 11.45 teng...oke lah mari kita tunggu sambil foto-foto suasana sekitar dan selfie sama pelajar2 jepang...

Ini dandanan "normal" yang ditemui
Masuk di kawasan Harry Potter isinya manusiaaa semua (ya iyalah masa zombiee). Ada yang foto, ada yang antri ada yang makan, ada yang selfie...Jalan aja susah...Mpffff...di kawasan aja rame begini gimana di antrian ride 3D nya?? eng ing eng....antriannya udah...240 menit. Apaaaaa 4 jam??? ogahhh banget. Rrruarrr biasa USJ...hari Jumat aja ngantrinya kayak gini. Daripada bengong, akhirnya antri beli butter beer yang enak itu beserta gelasnya untuk souvenir. Disini semuanya pake antri...foto aja antri...beli minum antri. Lihat-lihat peta lagi untuk lihat ride apa yang bisa dinaiki. Flight of Hippogriff yang kayak maenan anak-anak aja waktu tunggunya 3 jam. Yang ga terlalu penuh itu Ollivanders yaitu toko yang jual wands alias tongkat sihirnya Hogwarts...sebelum masuk tokonya kita disuguhi semacam acara magic trick di ruangan kecil gelap. Sebentar banget sih walaupun show-nya cukup interaktif. dari ruangan itu, pengunjung digiring ke toko tongkat sihir yang bisa dibeli sebagai souvenir. Dari situ sempat mampir juga di Zonko's, toko yang jual jubah-jubah sekolah Hogwarts. cukup satu kata kenapa keluar dari sana tangan kosong. Mahal. 

Ketika mau keluar, eh ada pertunjukan street entertainment yang diakhiri dengan foto bareng. Walaupun jadi tidak lihat apa-apa di Harry Potter area, namun aku cukup hepi foto-foto, inilah resiko pergi di masa liburan sekolah Jepang. Waktunya makan tiba! setelah melihat peta, makanan yang sepertinya cukup terjangkau berada dekat pintu masuk, namanya Mel's drive in. Ini mirip banget sama Mel's drive in di USS, dengan harga yang jauhh lebih mahal tentunya yaitu 1500 Yen an sepaket yang isinya burger, kentang goreng dan coca cola....glek Rp. 180,000 saja. Ketika lagi makan, karnaval sedang berlangsung, jadi lumayan deh makan dengan pemandangan karnaval. Dari sini buru-buru jalan ke wahana Waterworld yang sudah ada jadwalnya 

Ride berikutnya adalah Jurrasic Park. Disini aku antriii lama sekali karena tidak ada express pass ataupun single rider. Namun gak nyesel sih naik Jurassic ini karena memang permainannya seru, sedikit basah dan ngagetin. Dari sini sempat 

Dari sana jalan ke Amazing Adventure of Spiderman area dan langsung kesenengan ketika nemu antrian single rider. Single rider itu antrian khusus bagi kamu yang mau naik wahana sendiri. Kalau kamu berdua, gak terlalu masalah karena antrinya bisa berdua, hanya pada saat naik wahananya aja dipisah. cukup 20 menit saja antri di sini. Ride Spiderman ini cukup menarik dengan suguhan 3D dimana kita seakan akan berayun dari satu gedung ke gedung lainnya. Selesai dari Spiderman, gak lupa foto-foto di kawasan Hollywood yang kece banget. Setelah itu ke area Terminator 2: 3D yang antrinya ga terlalu lama. Dalam permainan ini kita dibawa ke area bioskop, Disini gak cuma nonton aja tapi ada aktor yang berada di panggung lari-lari. Sayangnya semua dialog dalam bahasa Jepang. Jadi cukup roaming. 

Hari sudah cukup gelap ketika aku masuk antrian Back to the Future. sayangnya disini tidak ada single rider line lagi, jadi antri sekitar 1.5 jam. permainan cukup seru namun memang karena filmnya film lama, tampilan layarnya pun tidak jernih dan gambarnya kuno. Tapi cukup oke. Karena sudah lapar dan tidak mau makan lagi di USJ, akhirnya aku keluar tanpa menunggu fireworks show. Sepertinya harus segera kembali ke hotel untuk makan dan istirahat. 

Hari kedua ini ditutup dengan makan ramen di Ichiran Ramen di daerah Umeda. Sebenarnya Ichiran Ramen gak terlalu susah dicari namun karena benar-benar capek akhirnya sempat nyasar dikit. Seperti review orang sebelumnya, Ichiran Ramen ini sangat enak. Benar-benar worth to try deh. Tapi ini non-halal ya...

Yang kiri keran air minum free refill


Lanjut ke hari ke 3 ya...

Rabu, 11 Mei 2016

Japan Day 1

Akhirnya setelah pulang liburan, bisa juga update blog. Sebenarnya pulang dari Jepang dari tanggal 24 Maret. Cuma karena ada beberapa liburan dan kerjaan kantor yang numpuk, akhirnya baru sekarang bisa update. Perasaan pulang dari Jepang itu....capeeeeek saudara-saudara. Setelah ngerasain capek yang gak hilang-hilang walaupun udah istirahat lama, akhirnya aku ngakuin bahwa itinerary kemarin super duper padat. Tapi gak pa pa deh...I'm happy bisa lihat semuaaa. Mulai dari mana ya...oke mulai dari hari keberangkatan ya. 

Hari Kamis tanggal 16 Maret 2016 aku berangkat dari Bandara Soeta untuk menuju Tokyo. Dengan perjalanan 8,5 jam akhirnya tiba juga di Bandara Haneda. Pesawat Garuda yang ditumpangi cukup oke, cuman aku kurang sreg sama makanannya...oh well, ga terlalu penting juga sih karena uda excited pengen sampe. Akhirnya pagi tanggal 17 Maret sampe di Haneda. Langsung ngacir ke konter JAL ABC untuk pick up wifi router yang sudah di-book sebelumnya. Cuma tinggal kasih bukti pemesanan, tanda tangan dan langsung dikasih amplop berisi router. Di dalamnya ada wifi, cable, charger, manual book dan amplop kosong untuk balikin wifi nya nanti di mail box bandara. Inget yah, jangan sampai kececer. Walau pesen yang namanya "standard" wifi nya kenceng banget, batere nya juga sudah keiisi penuh jadi bisa langsung dipakai. Sehabis itu cari-cari konter JR yang katanya ada di seberang pintu masuk Monorail. Sampe disana langsung ditanya JR pass nya mau diaktifin kapan dan dikasih tau masa aktifnya JR Pass dan langsung dikasi booklet JR passnya. Setelah itu kita bisa pesan tiket untuk hari itu saja. Ingat ya, JR office hanya melayani booking tiket hari itu saja. Karena jadwalnya mau ke Osaka, jadi di booking lah Tokyo-Osaka dengan Shinkasen Hikari. 

Perjalanan dimulai dari Haneda naik monorail ke Hamamatsucho trus dari sana naik JR ke Tokyo Station. Semuanya di Station yang sama ya...cuman karena pingin lihat-lihat akhirnya keluar station. Brrrrrr...begitu keluar wajah langsung kerasa ketampar kena angin dingin. Walaupun suhunya dibilang "cuma" 12 derajat, karena angin jadinya terasa lebih dingin. Sebagai bekal beli Onigiri, kopi kaleng dan stik sosis di minimarket...

Perjalanan Tokyo-Osaka memakan waktu hampir 3 jam. Tapi karena excited, jadi tidak terlalu kerasa. Shinkansen sangat nyaman. Ada reclining chair, gantungan jaket dan colokan hp. Koper ditaruh di kompartemen atas (koper ukuran 21) kalau lebih besar bisa ditaruh di koridor (tidak disarankan bawa koper yang besar). Sesampainya di Osaka langsung cepat-cepat cari hotel. Osaka station itu gedeeeee sekali. Even exitnya ada west, south, east, north dll. Sampai ke west pun masih bercabang cabang exitnya. Tips, sebaiknya google jalan persisnya ke hotel yang sudah dipesan. Hotel aku dekat sekali dengan Osaka station dan sudah google cara jalan ke sananya. Itupun masih pake nyasar nyari exit-nya. Dengan jalan kaki sekitar 5 menit, sampai lah di hotel....asikkk. Setelah beres-beres dan bersih-bersih. aku keluar hotel menuju Osaka station lagi untuk cari makan siang...ga bisa dibilang makan siang sih karena sudah jam 4.an. Di Osaka station banyaaaaaak banget resto. Akhirnya setelah mengalami kegalauan dipilihlah resto yang kecil dan harganya tertera di depannya. Makan nasi kari seharga 300 yen yang buanyaak tapi ga aa dagingnya...wkwkwkwk. Setelah tenaga ter-recharge aku naik kereta menuju Osaka Castle di station Osakajokoen. Dari exit station berjalan kaki sekitar 10 menit untuk sampai ke istana nya. Osaka Castle dikelilingi danau/air dan jalanan yang memutar. Sekitar jam 5 disana street performer sedang siap-siap "ngamen" dan banyak yang lagi lari di udara yang cukup dingin. hiiii.....kuat kuat sekali mereka. Seperti yang sudah diduga Osaka Castle nya sudah tutup. Tapi foto-foto di sekitarnya sudah bikin hepi kok. Menjelang jam 6 an aku memutuskan untuk jalan ke arah Umeda yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Osaka station untuk cari Ichiran Ramen yang terkenal dan beli oleh. Sampai di Umeda area, cari Ichiran Ramen cukup susah karena wifi mati, akhirnya cuma belanja aja disana dan langsung ke Osaka station lagi untuk cari makan malem. Kali ini makan Ramen  yang kuahnya tidak sekental tonkotsu ramen namun cukup enak. 

Semangkok sekitar 700 yen

Setelah makan, langsung balik ke hotel karena besok harus berangkat pagi ke USJ. 

Kamis, 25 Februari 2016

Packing List Jepang

Semua orang suka liburan, tapi bagi cewek, hal yang sangat menyenangkan pada saat liburan adalah playing dress up alias dandan cantik. nah, untuk list outfit yang harus dibawa harus menyesuaikan dengan suhu disana. Aku mau ke Jepang pada tanggal 15-24 Maret, yang merupakan musim semi. Kepengennya sih pas disana bisa lihat bunga sakura yang sedang blooming, cuman kalo dilihat dari jadwal full bloom sakura yang ada di Jadwal Sakura Jepang 2016 jadwalnya di awal April. Yaaaaa beda dikit doang padahal. Tapi ya sudahlah. Oh ya, walaupun jadwal full blooming sakura di kota -kota kayak Tokyo, Osaka dan Kyoto itu di awal April, ada loh daerah yang uda full bloom duluan. Nama daerahnya Kawazu Sakura. Disana sakura berbunga lebih awal. Agak jauh sih dari Kyoto sekitar 2 jam an. Tapi bagi yang bener-bener penasaran, waktu segitu ga masalah kan ya? ...wong Jakarta-Tangerang aja bisa 2 jam #curcol#macetmenyiksaku. 

Back to suhu pas di Jepang, di bawah ini prediksi cuaca via accuweather: Accuweather Tokyo



Kalo dilihat dari prediksi diatas sih kayaknya suhunya gak gitu dingin....cuma ujannya itu lhooo...ngeselin kan kalo jalan jalan terus ujan. Menurut temen yang baru pulang dari sana kemarin, suhunya emang agak dingin, pagi-siang sih cuma 8 derajat tapi kalau malem bisa drop ke minus, Dengan suhu kayak gitu, baju udah 4 lapis dan harus pake sepatu plus kaos kaki tebel. Untuk tanggal pas aku pergi sih karena suhunya masih agak diatas bulan Feb, lapisan baju juga agak berkurang. So far baju dingin yang udah dibeli untuk dibawa ke sana:

1. Jaket parka Zara dengan hoodie dan faux fur di leher. Panjangnya sepaha . Jaketnya agak tebal tapi lumayan hangat, namun tampaknya kurang ampuh kalo ada angin.

2. Jaket kulit H&M. Kalo ini cuma karena aslikkk pengen gaya doang, Secara jaketnya cuma sepinggang dan lapisannya gak tebel. Cuma bisa dipake siang siang pas angin sepoi-sepoi kayaknya. 

3. Cable sweater (1)

4. Wrap scarf tebel (1) buat dililit di badan pas lagi pake baju biasa

5. 1 topi lebar, 1 topi beanie

6. Sneakers (1), Boots (1)

7. Aneka syal, scarf yang gak terlalu tebel.

Untuk outfit yang lain paling baju tangan panjang, sweat shirt sama baju tangan pendek untuk daleman,

Hunting baju2 dingin biasanya di Zara, H&M, Stradivarius and Bershka..apalagi pas bulan des-jan mereka sale gede2an. Tapi kalo uda kelewat salenya bisa ceki2 di factory outlet (yang harganya udah gak kayak factory lagi) contohnya premium outlets (mall ambasador, jalan raya serpong), Rumah Mode (Bandung), SOT sourcing (Bogor). Kalau mau online bisa cek juga di mapemall.com. Itu website MAP group yang uda kesohor itu loh. Pokoknya selama mau nyari, pasti dapet yang miring-miring. 

Happy Hunting!